GPM-PALAS Kembali geruduk PT KAS Ujung Batu Sosa.

Nasional20 Dilihat

Padang Lawas| Jejakkriminal.info – puluhan massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Pemuda dan Mahasiswa Padang Lawas (GPM-PALAS) kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) PT KAS Ujung Batu Sosa, Kabupaten Padang Lawas, pada Kamis (03/09/2026).

Aksi yang digelar untuk kedua kalinya ini menuntut transparansi izin operasional, mempertanyakan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate social responsibility (CSR), keadilan harga Tandan Buah Segar (TBS) antara masyarakat biasa dengan kontrakan, penghentian dugaan pencemaran Sungai Aek Tinga, serta perlakuan setara terhadap petani kecil.

Massa aksi yang diperkirakan mencapai lebih dari 30 orang, terdiri dari mahasiswa dan masyarakat setempat, mulai berkumpul sejak pukul 10.00 WIB di depan kantor PMKS PT KAS Ujung Batu Sosa. Massa membawa spanduk, poster, pengeras suara (megaphone), dan mobil komando sebagai alat peraga aksi.

Ketika massa tiba di lokasi perusahaan, pihak humas PT KAS keluar untuk menanggapi dan berdialog. Namun, massa aksi menolak berbicara dengan humas. Mereka menegaskan ingin bertemu langsung dengan manajer perusahaan untuk mendapatkan jawaban konkret terkait 11 tuntutan yang telah disampaikan.

Menejer perusahaan yang tidak kunjung datang menimbulkan reaksi dari Massa yang semula tenang berubah menjadi emosional. Sejumlah massa kemudian membakar ban bekas di depan gerbang perusahaan sebagai bentuk protes. Tak berhenti di situ, massa aksi mendorong barikade pagar perusahaan hingga hampir saja roboh dengan tujuan untuk memasuki langsung ke area perusahaan untuk menyampaikan langsung dengan megaphone di halaman ruangan manajer.

Situasi di lapangan semakin memanas. Negosiasi berlangsung cukup lama, hampir satu jam. Humas perusahaan terpaksa bolak-balik masuk ke dalam gedung sebanyak tiga kali karena didesak massa untuk memanggil manajer perusahaan keluar dan bertemu langsung dengan massa aksi. Namun, manajer tetap tidak kunjung menampakkan diri.

Baca Juga :  Diduga Pekerja Proyek Rehabilitasi Kantor PUPR Provinsi Abaikan K3

Melihat situasi yang semakin tegang, aparat keamanan dari Polres Padang Lawas turun tangan melakukan mediasi. Setelah dilakukan pendekatan dan dorongan dari pihak kepolisian, akhirnya massa GPM-PALAS bersedia berdialog dengan Manajemen Perusahaan ke dalam ruangan menejer sebagai perwakilan hanya di perbolehkan lima orang yang diizinkan masuk ke ruangan manajer perusahaan.

Lima perwakilan GPM-PALAS akhirnya masuk ke ruangan manajer. Di dalam ruangan berpendingin udara (AC) tersebut, Panaekan Hasibuan selaku Ketua Umum GPM-PALAS menyampaikan seluruh aspirasi dan tuntutan massa. Dalam pernyataannya, Panaekan mengungkapkan kekecewaan yang sangat mendalam terhadap sikap manajer perusahaan yang dinilai membiarkan massa aksi bentrok dengan aparat keamanan di luar, sementara manajer dengan santai menikmati kenyamanan ruangan ber-AC tanpa peduli dengan kepayahan aparat kepolisian yang berusaha menenangkan massa.

Menanggapi hal itu, Suardi selaku manajer PT KAS Ujung Batu Sosa menjawab dengan nada tegas, “Saya sudah 30 tahun menjadi manajer di perusahaan lain juga dan saya sudah sering pengalaman dengan situasi seperti ini. Kalau di luar antara aksi unjuk rasa adu argumen yang ada kita saling bertengkar tensi bisa naik, maka lebih baik kita jumpa di dalam ruangan ini dengan kepala dingin agar dapat titik temu pokok permasalahannya.”

Dialog berlangsung kurang lebih setengah jam di dalam ruangan, dengan saling tanya jawab terkait isi pernyataan sikap dan tuntutan yang telah disampaikan massa. Namun, ketegangan kembali memuncak ketika pembahasan menyentuh isu perbedaan perlakuan harga TBS antara petani kontrakan dengan petani biasa. Massa menduga TBS yang memiliki hubungan dengan manajemen perusahaan dibayar lebih mahal dibandingkan petani kecil.

Baca Juga :  Keluarga Besar Media Jejakkriminal.com Turut Berdukacita Atas Wafatnya Suhandro Bin Tarmizi

Menanggapi tuntutan tersebut, manajer Suardi mengeluarkan pernyataan yang dianggap provokatif, “Kalau tidak suka, ya kita tidak ada paksaan untuk datang ke perusahaan PMKS PT KAS ini. Kan masih ada perusahaan lain seperti PT MSB, silahkan pergi ke sana, jangan datang ke sini.”

Pernyataan Suardi itu langsung memicu amarah Panaekan Hasibuan. Ketua Umum GPM-PALAS tersebut terpancing emosi dan memukul meja dengan keras sambil berkata, “Masalah usaha, jangan samakan UMKM dengan perusahaan besar seperti ini. di Negara kesatuan Republik Indonesia ini setiap perusahaan mempunyai regulasi dan tanggung jawab yang harus di ikuti maka laksanakan itu secara adil dan bijaksana, Perusahaan ini hadir di tengah masyarakat, harusnya memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, khususnya masyarakat sekitar Sosa. Pernyataan Anda itu tidak bagus, tolong diperbaiki kalimatnya!” Tegasnya.

Dengan perasaan sangat kecewa, Panaekan Hasibuan bersama rombongan perwakilan lainnya langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa pamit. Dialog yang diharapkan bisa menjadi solusi akhirnya berakhir tanpa kesepakatan dan tanpa titik temu.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak pagi itu akhirnya bubar setelah perwakilan GPM-PALAS keluar dari ruangan manajemen. Massa membubarkan diri dengan membawa kekecewaan atas sikap manajemen perusahaan yang dianggap arogan dan tidak menghargai aspirasi masyarakat serta petani kecil di sekitar perusahaan.

A.R.H.P

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *