BELITUNG TIMUR | Jejakkriminal.info — Aksi unjuk rasa ratusan warga dan penambang rakyat di Kantor Pengawasan Produksi (Wasprod) PT Timah Tbk, Desa Lenggang, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Jumat (7/8/2026), berujung ricuh. Massa yang semula menyampaikan aspirasi akhirnya merusak sejumlah fasilitas kantor hingga membakar bangunan operasional milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
Kericuhan terjadi setelah massa meluapkan kekecewaan terhadap terhentinya aktivitas pembelian bijih timah oleh mitra strategis dan kolektor PT Timah pasca-penindakan hukum yang dilakukan aparat kepolisian beberapa hari sebelumnya.
Sebelumnya, pada Selasa (4/8/2026), tim gabungan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepulauan Bangka Belitung, Satreskrim Polres Belitung, dan Satbrimob menggerebek sebuah lokasi penampungan pasir timah di Jalan Jagung, Desa Air Merbau, Kecamatan Tanjungpandan. Dalam operasi tersebut, polisi menyita sekitar 52,5 ton pasir timah yang diduga tidak memiliki dokumen resmi serta menetapkan empat orang sebagai tersangka.

Sejak operasi penegakan hukum itu dilakukan, aktivitas pembelian pasir timah oleh sejumlah mitra dan kolektor dilaporkan berhenti. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap para penambang rakyat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari penjualan hasil tambang.
“Kami sudah cukup sabar ketika harga beli timah sempat turun akibat persoalan RKAB internal PT Timah. Sekarang setelah ada penangkapan itu, semua mitra tidak lagi membeli timah kami. Kalau begini terus, bagaimana kami memberi makan keluarga?” ujar seorang penambang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.
Menurutnya, terhentinya aktivitas pembelian membuat banyak penambang kehilangan sumber pendapatan dalam waktu singkat.
Dalam aksi tersebut, sejumlah ibu rumah tangga juga turut bergabung menyuarakan tuntutan agar pemerintah dan PT Timah segera memberikan solusi atas kondisi yang dihadapi masyarakat.
“Bagaimana tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya? Setelah penangkapan itu, kami mau makan apa kalau PT Timah dan mitranya tidak membeli timah kami? Kalau tidak ada kejelasan hari ini, kami akan melanjutkan aksi ke rumah Bupati Belitung Timur,” ujar Nita, salah seorang peserta aksi.
Hingga berita ini diturunkan, ratusan personel kepolisian dari Polres Belitung Timur masih berjaga di sekitar lokasi untuk mengamankan situasi dan mencegah meluasnya aksi perusakan.
Sementara itu, redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi resmi dari manajemen PT Timah Tbk serta Polres Belitung Timur terkait insiden pembakaran kantor, perkembangan penanganan hukum, dan langkah yang akan ditempuh untuk merespons tuntutan para penambang.(Kandar)




